Untuk lagu patriotik Indonesia, lihat Ibu Pertiwi (lagu).
Citra seorang wanita atau seorang dewi agung dalam busana
tradisional kuna zaman kerajaan Hindu-Buddha di Monumen Nasional, Jakarta yang
merupakan penggambaran populer Ibu Pertiwi di Indonesia.
Ibu Pertiwi merupakan personifikasi nasional Indonesia,
sebuah perwujudan tanah air Indonesia. [1] Sejak masa prasejarah, berbagai suku
bangsa di kepulauan Nusantara sudah menghormati roh alam dan kekuatan bumi,
mereka mengibaratkannya sebagai ibu yang memberikan kehidupan, sebagai dewi
alam dan lingkungan hidup. Setelah diserapnya pengaruh Hindu sejak awal
millenia pertama di nusantara, dia dikenal sebagai Dewi Pertiwi, dewi bumi.
Ibu Pertiwi populer dalam berbagai lagu dan puisi perjuangan
bertema patriotik, seperti lagu "Ibu Pertiwi" dan "Indonesia
Pusaka". Dalam lagu kebangsaan "Indonesia Raya", lirik dalam
bait "Jadi pandu ibuku", kata "ibu" di sini merujuk kepada
Ibu Pertiwi. Meskipun Ibu Pertiwi populer dalam berbagai lagu dan puisi
perjuangan, perwujudan fisik dan citranya jarang ditampilkan di media massa
Indonesia.
Tentang Lagu 'Kulihat Ibu Pertiwi'
1. kulihat ibu pertiwi
sedang bersusah hati
air matamu berlinang
mas intanmu terkenang
hutan gunung sawah lautan
simpanan kekayaan
kini ibu sedang susah
merintih dan berdoa
2. kulihat ibu pertiwi
kami datang berbakti
lihatlah putra-putrimu
menggembirakan ibu
ibu kami tetap cinta
putramu yang setia
menjaga harta pusaka
untuk nusa dan bangsa
Juru Tulis: Lambertus L. Hurek
Iman Dwi Hartanto, penyiar Radio Suara Surabaya [SSFM], yang
sangat dikenal warga Surabaya dan sekitarnya. Ini karena SSFM banyak didengar,
sering menjadi rujukan informasi lalulintas, dan berita-berita mutakhir alias
breaking news.
Setiap Jumat malam, Iman memandu 'Memorabilia', program
lagu-lagu kenangan. Ada lagu Indonesia, Barat, jenisnya macam-macam. Ada lagu
1950-an, 1960-an, 1970-an. Penyanyinya macam-macam. Iman cakap bikin
kategorisasi, ini didukung koleksi SSFM yang cukup, sehingga sajian 'Memorabilia'
selalu menarik. Apalagi, kalau Ibu Tutik [lansia] gabung melalui telepon,
wuih... ramai nian.
Ada lagi yang menarik, sekaligus menjadi penanda berakhirnya
'Memorabilia'. Apa itu? Iman Dwi Hartanto selalu memutar nomor instrumental
Kulihat Ibu Pertiwi. Anak-anak sekolah dasar dan lanjutan di Indonesia,
khususnya Jawa, tahu benar syair dan melodi nyanyian ini.
Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Suatu ketika ada pendengar bertanya, Kulihat Ibu Pertiwi itu
ciptaan siapa? Kok enak sekali? Iman, saya tahu, berusaha menjawab dengan
hati-hati. Sebab, bagaimanapun juga SARA [suku, agama, ras, antargolongan]
sangat peka di Indonesia, khususnya Jawa Timur. Salah jawab bisa gawat, Bung.
Tapi Pak Markus Sajogo dalam sebuah percakapan dengan saya
mengatakan, lagu Kulihat Ibu Pertiwi jelas-jelas lagu rohani kristiani atawa
gospel song. Saya pun diminta mengecek KIDUNG JEMAAT, buku nyanyian umat
Kristen Protestan di Indonesia. Karena itu, Pak Markus, pengacara dan tokoh
masyarakat Surabaya, heran kok bisa lagu gospel direkayasa menjadi Kulihat Ibu
Pertiwi.
Saya pun cek KIDUNG JEMAAT. Benar! Lagu itu bertajuk Yesus
Kawan yang Sejati, KIDUNG JEMAAT Nomor 453.
Lagu tiga bait itu ditulis Charles Crozart Converse, 1868,
komposer asal Amerika Serikat, 1832-1918. Syair asli 'What a friend we have in
Jesus', ditulis oleh Joseph Medlicott Scriven, 1855. Yayasan Musik Gereja
[Yamuger] kemudian menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia pada 1975, dan
kemudian menjadi lagu rohani kristen di Indonesia.
Aransemen paduan suara [kor] standar diambil dari Hymns of
the Christian Life, 1936. Lagu ini pendek, hanya 16 bar, 4/4, moderato [MM 80],
F = do. Tata suara sederhana saja sehingga sangat mudah dinyanyikan. Dalam
dunia paduan suara, masuk kategori A: sangat mudah, tidak perlu latihan
lama-lama. Anak-anak sekolah dasar pun bisa.
Lalu, bagaimana pula dengan lagu Kulihat Ibu Pertiwi yang
sangat terkenal di Indonesia itu? Siapa yang menulis syair dan musiknya? Saya
sudah memeriksa beberapa buku kumpulan lagu nasional, termasuk terbitan Musika,
Jakarta. [Buku-buku nyanyian penerbit ini terbilang sangat bermutu dan laku
keras.]
Ada memang Kulihat Ibu Pertiwi. Tapi tidak ada informasi apa
pun tentang nama penulis lagu dan lirik. Hanya ditulis N.N. = no name atawa
anonim. Jangan heran, orang Indonesia [umumnya] tidak pernah tahu asal-muasal
lagu tersebut. Dan memang sejak dulu orang Indonesia kurang memperhatikan 'hak
cipta', tak begitu gubris nama pengarang lagu. Praktik bajak-membajak,
jiplak-menjiplak, malah menjadi 'tradisi' di industri musik rekaman Indonesia.
Berdasar data-data di KIDUNG JEMAAT, juga beberapa buku
nyanyian gerejawi lainnya [terbitan Indonesia dan luar Indonesia], saya
akhirnya menyimpulkan bahwa lagu Kulihat Ibu Pertiwi itu IDENTIK dengan What a
Friend We Have in Jesus karya Charles Crozart Converse asal Amerika Serikat
pada 1868. Melodinya 100 persen sama.
Saya menduga, melodi khas nyanyian gerejawi internasional
itu kemudian diadopsi oleh seorang komposer atau guru musik atau siapa saja yang
punya hubungan dengan pendidikan musik di sekolah dasar atau sekolah menengah
di Indonesia. Besar kemungkinan orang itu beragama Kristen, atau setidaknya
akrab dengan melodi karya Charles Crozat Converse.
Mungkin, karena terkesan dengan melodi nan indah, ia
memasukkan kata-kata baru bertema kepedihan Ibu Pertiwi [alam Indonesia],
dibukukan, diajarkan kepada anak-anak sekolah. Maka, orang Indonesia pun
terbiasa dengan 'lagu nasional' Kulihat Ibu Pertiwi.
Beberapa tahun lalu, Pak Markus Sajogo pernah mencoba
mengusut siapa gerangan penulis lirik Kulihat Ibu Pertiwi, yang meminjam melodi
karya Converse, 1868. Tapi hasilnya belum jelas.
Sekali lagi, saya menduga-duga, orang yang kreatif itu
niscaya komposer berlatar belakang Kristen Protestan karena buku-buku nyanyian
Katolik [resmi] yang pernah beredar di Indonesia [Jubilate, Kantar Serani,
Syukur Kepada Bapa, Madah Bakti, Kidung Adi, Exultate, Kidung Syukur, Puji
Syukur, dan beberapa lagi] tak pernah memuatnya. Sebaliknya, hampir semua buku
nyanyian Protestan memuatnya.
Sebagai catatan, lagu-lagu nasional atau lagu wajib atau apa
pun namanya mengikuti pola strofik di kidung-kidung kristiani yang diwariskan
misionaris Barat, entah itu Jerman, Belanda, Amerika Serikat, Swiss. Ini bisa
dipahami karena pengarang lagu-lagu nasional kita banyak yang beragama nasrani,
khususnya Protestan dari gereja-gereja arus utama.
Sebut saja Liberti Manik, Binsar Sitompul, Cornel
Simanjuntak, Subronto Kusumo Atmojo, F.X. Sutopo, Frans Haryadi, N.
Simanungkalit, dan seabrek nama terkenal lainnya. Mereka ini berlatar belakang
sekolah musik gerejawi, setidaknya berguru pada pemusik-pemusik klasik Barat.
Dirasa Indonesia membutuhkan banyak lagu-lagu nasional, maka jalan termudah,
ya, mengikuti pola nyanyian strofik gereja yang sudah ada.
Bagi saya, 'pinjam-meminjam melodi' sudah lazim dalam dunia
musik. Bukankah lagu-lagu gerejawi, khususnya pasca-Reformasi Martin Luther,
menggunakan melodi lagu-lagu rakyat di Eropa? Setelah diberi syair baru, syair
kristiani, jadilah lagu gerejawi, puji-pujian kepada Tuhan.
Jangan lupa, Misa Dolo-Dolo yang sangat tekenal di Gereja
Katolik Indonesia menggunakan melodi lagu rakyat Lamaholot di kampung saya,
Flores Timur. Oleh Pak Mateus Wari Weruin, komponis musik liturgi, bahan dasar
dari kampung ini diolah menjadi ordinarium misa bernuansa Flores Timur. Pola
macam ini pun masih dilakukan Pusat Musik Liturgi, Jogjakarta, saat menggelar
lokakarya musik liturgi di berbagai daerah di Indonesia.
Kembali ke Kulihat Ibu Pertiwi. Lagu ini sudah telanjur
terkenal di Indonesia, syairnya sangat menyentuh orang Indonesia, apa pun
agama, etnis, suku, latar belakangnya. Bahwa dia meminjam melodi karya Charles
Crozat Converse bukan masalah. Persoalannya, sejak dulu guru-guru musik serta
penerbit buku nyanyian di Indonesia alpa mencantumkan nama penulis melodi dan
penulis lirik/syair.
Mudah-mudahan di era copyright ini, sebaiknya penerbit
Indonesia merevisi buku nyanyian anak sekolah dengan menyertakan nama penulis
lagu, Charles Crozat Converse, serta penulis lirik versi Indonesia.
Harus diakui, sejak dulu orang Indonesia malas mencari data
dan informasi, sehingga dengan gampang menulis N.N. Ingat-ingat pesan Bung
Karno:
"Janganlah kita menjadi bangsa penjiplak, a copy
nation!"